Fraktur Cranial Base
Fraktur Fossa Kranii Anterior
- Melibatkan lempeng kribriform dan tulang etmoid dengan persentase kasus sekitar 17%.
- Struktur yang terlibat mencakup dinding posterior sinus frontal, atap etmoid anterior dan posterior, sambungan kribriform-etmoid, atap orbital, lamina kribrosa, krista galli, orbital roof, posterior wall of the sinus, sfenoid, dan sella.
Klasifikasi
Berdasarkan studi kadaver dengan pola unik fraktur dan fraktur wajah Lefort (Baugnon, 2014)
- Tipe I: berkaitan dengan cedera frontal
- Tipe II: berkaitan dengan fraktur linier vertikal yang lebih lateral dari kalvarium dan anterior basis kranii
- Tipe III: penggabungan fraktur frontobasilar sentral dan lateral
Berdasarkan era sebelum adanya CT-Scan (Escher, 1969; Tasdemiroglu, 2002)
- Tipe I: cedera frontal yang ditandai dengan fraktur rhinobase
- Tipe II: fraktur kecil yang terlokalisasi dengan celah mikro dan robekan duramater
- Tipe III: fraktur yang khas berhubungan dengan kompresi atau depresi jaringan saraf
- Tipe IV: fraktur fronto-orbital di dalam basis kavum nasi
Berdasarkan era setelah adanya CT-Scan (Sakas, 1998; Tasdemiroglu, 2002)
- Tipe I: fraktur kribriform
- Fraktur linear melalui pelat cribriform tanpa melibatkan sinus etmoid dan frontal
- Tipe II: fraktur fronto-etmoidal
- Fraktur ini meluas melalui bagian medial lantai fossa kranial anterior dan melibatkan dinding sinus etmoid dan/atau frontal medial
- Tipe III: fraktur frontal lateral
- Fraktur ini meluas melalui sinus frontal lateral (dinding superomedial dari orbita), yang dapat melibatkan dinding superior dan/atau lateral dari sinus frontal lateral. Tipe fraktur ini dapat menyerupai fraktur tipe 4 dalam klasifikasi Escher.
- Tipe IV: fraktur kompleks
- Fraktur ini terdiri dari kombinasi apa pun dari fraktur tipe I hingga tipe III.
Fraktur Fossa Kranii Media
- Diklasifikasikan berdasarkan garis fraktur yang terbentuk sepanjang sumbu piramida petrosa.
- Melibatkan tulang temporal dan tulang piramidal.
- Zonasi dari dasar tengkorak media mencakup daerah posterior dasar tengkorak anterior, anterior ke foramen magnum, dan media ke garis ekstensi dari lempeng sfenoid medial.
- Variasi dalam klasifikasi
- Pola fraktur sagital atau oblik dapat terjadi pada fraktur fossa kranii media, khususnya akibat fraktur frontal yang merambat ke bagian fossa kranii media.
- Fraktur sela tursika dapat terjadi meskipun jarang.
Klasifikasi
Berdasarkan klasifikasi umum (Boles, 2017)
- Fraktur longitudinal
- Fraktur transversal
- Fraktur kompleks atau campuran
Berdasarkan keterlibatan kapsul optik (Munilson, 2015)
- Fraktur yang tidak melibatkan kapsul optik: berjalan anterolateral dari kapsul optik akibat benturan di daerah temporoparietal.
- Fraktur yang melibatkan kapsul optik: dapat terjadi akibat benturan pada daerah oksipital, merusak koklea dan labirin.
Fraktur Fossa Kranii Posterior
- Secara umum, literatur menyebutkan bahwa frekuensi kejadian fraktur fossa kranii posterior sangat rendah atau jarang terjadi.
- Fraktur fossa kranii posterior melibatkan tulang oksipital dan area posterior ke garis ekstensi dari fisura petrooksipital.
Klasifikasi
Berdasarkan gambaran pencitraan dan mekanisme fraktur (Baugnon, 2014)
- Tipe I: kondilus impaksi dengan comminuted, karena beban aksial
- Tipe II: fraktur tengkorak basilar dengan ekstensi linier ke kondilus oksipital
- Tipe III: fraktur avulsi di tempat perlekatan ligamen alar
Klasifikasi lain (Tasmidemiroglu, 2002)
Fraktur basis kranii posterior melibatkan klivus, tulang oksipital bagian basal, dan kondilus oksipital
- Fraktur klivus
- Fraktur longitudinal
- Fraktur transversal
- Fraktur oblik
- Fraktur klivus yang meluas ke kondilus okspital
- Fraktur kondilus oksipital (Anderson dan Montesano, 1988)
- Tipe I: fraktur dampak pada kondilus oksipital yang terjadi sebagai hasil beban aksial tengkorak pada atlas
- Tipe II: terjadi sebagai perpanjangan dari fraktur tulang oksipital
- Tipe III: fraktur avulsi kondilus oksipital oleh ligamen alar
- Tipe IV: fraktur kondilus oksipital tipe I bilateral
Comments
Post a Comment